Hoegeng Iman Santoso dan Istri Meriyati Dimakamkan Berdampingan: Kisah Cinta Abadi Polisi Jujur Indonesia
Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, berpulang pada 3 Februari 2026 di usia 100 tahun. Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya di Taman Pemakaman Umum Buhut Giri Tama, Bogor, tepat berdampingan dengan pusara suaminya, Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Pemilihan lokasi ini bukan kebetulan. Hoegeng sendiri menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata saat wafat pada 2004, demi bisa bersanding selamanya dengan sang istri.
Kisah Hoegeng dan istri dimakamkan berdampingan menjadi simbol cinta sejati yang langgeng selama puluhan tahun. Pasangan ini tidak hanya menunjukkan kasih sayang pribadi, tapi juga integritas hidup sederhana di tengah godaan kekuasaan. Hoegeng dikenal sebagai polisi paling jujur di Indonesia, sementara Meriyati selalu mendukungnya dengan setia. Artikel ini mengulas perjalanan hidup mereka, dari pertemuan pertama hingga warisan moral yang ditinggalkan.
Biografi Singkat Jenderal Hoegeng Iman Santoso
Hoegeng Iman Santoso lahir pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan, Jawa Tengah. Nama aslinya Iman Santoso, tapi ia lebih dikenal dengan panggilan Hoegeng sejak kecil. Ia tumbuh di keluarga sederhana dan menempuh pendidikan hukum sebelum bergabung dengan kepolisian.
Karir Hoegeng melonjak cepat. Ia pernah menjabat sebagai Kapolri kelima pada periode 1968-1971 di era awal Orde Baru. Hoegeng memimpin institusi Polri dengan tegas, fokus pada pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Ia menolak berbagai suap, bahkan dari kalangan elit.
Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 di usia 82 tahun. Ia memilih makam sederhana di Bogor agar kelak istrinya bisa dimakamkan di sampingnya. Keputusan ini mencerminkan prioritasnya pada keluarga di atas penghargaan negara.
Awal Mula Kisah Cinta Hoegeng dan Meriyati Roeslani
Hoegeng dan Meriyati bertemu pada era pendudukan Jepang di Yogyakarta. Keduanya terlibat dalam sandiwara radio RRI berjudul Saijah dan Adinda, adaptasi dari novel Max Havelaar. Hoegeng memerankan Saijah, sementara Meriyati menjadi Adinda.
Latihan intensif membangun kedekatan emosional. Meriyati kemudian berkata, “Antara Hoegeng dan saya sudah ada pita cinta yang tak terlihat.” Benih asmara tumbuh cepat di tengah situasi perang.
Mereka menikah pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Pernikahan sederhana ini menjadi awal perjalanan panjang. Pasangan ini dikaruniai beberapa anak, termasuk Aditya Hoegeng yang sering menceritakan wasiat ayahnya.
Kehidupan Pernikahan Penuh Dukungan dan Kesederhanaan
Hoegeng dan Meriyati menjalani rumah tangga dengan prinsip kesetaraan. Meriyati selalu mendukung keputusan suaminya, termasuk saat Hoegeng menolak jabatan menggiurkan yang berisiko korupsi.
Keluarga mereka hidup sederhana meski Hoegeng menduduki posisi tinggi. Meriyati pernah berjualan kembang dan sate untuk menambah penghasilan. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial tanpa mencari sorotan.
Anak-anak mereka tumbuh dengan nilai integritas. Aditya Hoegeng pernah mengungkap bahwa ayahnya berkata, “Kalau dimakamkan di TMP, Meri tak bisa di samping saya.” Hoegeng ingin istrinya selalu mendampingi, bahkan di akhirat.
Pasangan ini menghadapi berbagai tantangan era politik Indonesia. Namun, cinta mereka tetap kokoh hingga Hoegeng wafat pada 2004. Meriyati melanjutkan hidup dengan kenangan indah selama 22 tahun berikutnya.
Integritas Hoegeng: Teladan Polisi Anti Korupsi
Hoegeng menjadi legenda karena kejujurannya. Ia menolak mobil dinas mewah dan memilih kendaraan sederhana. Saat menjadi Menteri Irian Barat, ia mengungkap kasus korupsi tanpa takut ancaman.
Beberapa kisah inspiratif Hoegeng meliputi:
- Menolak suap besar — Dari pengusaha terkenal demi menjaga netralitas Polri.
- Hidup pas-pasan — Setelah pensiun, ia mengandalkan pensiun kecil tanpa mencari kekayaan.
- Tegas pada bawahan — Ia memberhentikan anggota yang terlibat penyimpangan.
- Membela rakyat kecil — Hoegeng sering membantu masyarakat tanpa pamrih.
Integritas ini memengaruhi Meriyati. Ia mendukung penuh, bahkan saat keluarga harus berhemat. Kisah mereka mengajarkan bahwa kejujuran membawa kedamaian batin.
Prosesi Pemakaman Meriyati dan Makna Berdampingan
Meriyati wafat pada 3 Februari 2026 pukul 13.24 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta. Ia meninggal karena sakit tua di usia tepat 100 tahun.
Pemakaman berlangsung pada 4 Februari 2026 dengan upacara kedinasan Polri. Jenazah dikebumikan di TPBU Giri Tama, Bogor, tepat di samping makam Hoegeng. Prosesi ini haru biru, dihadiri keluarga besar Polri dan tokoh nasional.
Makna Hoegeng dan istri dimakamkan berdampingan sangat dalam. Hoegeng sengaja menolak TMP Kalibata demi wasiat ini. Putranya, Aditya, menyatakan bahwa ayah ingin Meriyati selalu mendampingi.
Simbol ini menutup kisah cinta mereka yang langgeng 58 tahun selama Hoegeng hidup. Kini, keduanya bersatu kembali dalam damai abadi.
Warisan Moral Hoegeng dan Meriyati bagi Generasi Muda
Hoegeng dan Meriyati meninggalkan teladan berharga. Integritas Hoegeng menginspirasi reformasi Polri modern. Banyak akademi kepolisian menggunakan kisahnya sebagai materi pendidikan.
Cinta mereka menunjukkan bahwa kasih sayang sejati bertahan melalui kesederhanaan. Di era materialisme, pasangan ini membuktikan kebahagiaan datang dari kejujuran dan saling dukung.
Generasi muda dapat belajar dari mereka. Nilai-nilai seperti anti korupsi, kesetiaan keluarga, dan hidup bermakna tetap relevan hari ini.
Kisah Hoegeng dan istri dimakamkan berdampingan mengingatkan kita pada prioritas hidup. Cinta abadi dan integritas menjadi warisan terbesar mereka bagi bangsa.




