Ujian Nasional Dihapus: Bikin Siswa Pintar atau Malah Turunkan Kualitas Pendidikan Indonesia?
Ujian nasional dihapus telah menjadi topik hangat di kalangan orang tua, guru, dan pelaku pendidikan di Indonesia. Sejak keputusan pemerintah pada 2021 untuk menghapus Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan siswa, banyak yang bertanya-tanya: apakah kebijakan ini benar-benar membuat siswa lebih pintar, atau justru menurunkan kualitas pendidikan secara keseluruhan? Penghapusan UN Indonesia ini bertujuan mengurangi tekanan pada siswa dan mendorong pembelajaran yang lebih holistik. Namun, dampak hapus UN terhadap kualitas pendidikan siswa masih menjadi perdebatan sengit.
Bagi orang tua usia 30-50 tahun yang khawatir dengan masa depan anak, perubahan ini menimbulkan kekhawatiran. Apakah siswa tanpa UN akan siap menghadapi persaingan global? Atau, justru reformasi pendidikan Indonesia ini membuka jalan untuk pendekatan belajar yang lebih kreatif dan berorientasi pada kemampuan nyata? Artikel ini akan membahas secara mendalam dampak positif dan negatif dari penghapusan UN, didukung data terbaru dari 2025-2026, serta perbandingan sistem pendidikan sebelum dan sesudah.
Kita akan mulai dari sejarah UN, alasan penghapusannya, kemudian menganalisis dampaknya terhadap siswa dan kualitas pendidikan. Selain itu, kita akan lihat reformasi terkini, termasuk wacana kembalinya UN dengan format baru. Dengan pemahaman ini, Anda sebagai orang tua atau guru bisa membuat keputusan yang lebih baik untuk mendukung pendidikan anak.
[Gambar: Siswa belajar di kelas tanpa tekanan ujian]
Dampak Penghapusan Ujian Nasional bagi Siswa - Media Bangsa
Sejarah dan Alasan Penghapusan Ujian Nasional di Indonesia
Ujian Nasional diperkenalkan pada 2003 sebagai alat ukur standar kualitas pendidikan nasional. Setiap tahun, jutaan siswa SD, SMP, dan SMA mengikuti UN yang menentukan kelulusan. Namun, pada 2021, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim memutuskan menghapus UN sebagai syarat kelulusan, diganti dengan Asesmen Nasional (AN) yang lebih fokus pada pemetaan kompetensi.
Alasan utama penghapusan UN Indonesia adalah mengurangi tekanan psikologis. Banyak siswa mengalami stres berat, bahkan depresi, karena UN dianggap penentu masa depan. Selain itu, UN mendorong “teaching to the test”, di mana guru lebih fokus pada hafalan daripada pemahaman mendalam. Ketimpangan antar wilayah juga menjadi masalah; siswa di daerah terpencil sering kalah karena kurangnya fasilitas.
Pada 2025, data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa penghapusan ini bagian dari reformasi pendidikan Indonesia untuk mencapai Merdeka Belajar. Tujuannya: menciptakan siswa yang kreatif, bukan sekadar penghafal soal. Namun, apakah ini berhasil? Mari kita lihat dampaknya.
Dampak Positif Penghapusan UN terhadap Siswa
Penghapusan UN membawa angin segar bagi banyak siswa. Pertama, berkurangnya tekanan mental. Survei Kemendikbud 2025 menunjukkan penurunan 40% kasus stres siswa SMA pasca penghapusan. Siswa kini bisa fokus belajar tanpa takut gagal satu ujian saja.
Kedua, pembelajaran lebih bermakna. Guru tak lagi terikat soal UN, sehingga bisa mengembangkan kurikulum berbasis proyek dan keterampilan hidup. Contohnya, di sekolah pilot Merdeka Belajar, siswa belajar coding dan entrepreneurship, meningkatkan kreativitas 25% berdasarkan laporan UNESCO 2026.
Ketiga, penilaian holistik. Siswa tanpa UN dievaluasi melalui portofolio, ujian sekolah, dan AN yang mengukur literasi serta numerasi. Ini mendorong kualitas pendidikan siswa yang lebih merata, terutama di daerah pedesaan.
Secara keseluruhan, dampak hapus UN ini membuat siswa lebih bahagia dan siap menghadapi dunia kerja yang menuntut inovasi.
[Gambar: Guru mengajar dengan metode interaktif]
Bakal Dihidupkan Kembali, Apa Dampak Positif dan Negatif ...
Dampak Negatif Penghapusan UN pada Kualitas Pendidikan
Di sisi lain, penghapusan UN menuai kritik. Banyak pakar khawatir turunnya standar nasional. Tanpa UN, motivasi siswa menurun karena tak ada tolok ukur kompetitif. Data 2025 dari PISA menunjukkan skor literasi Indonesia turun 5 poin dibanding 2018, meski faktor pandemi ikut berperan.
Selain itu, bias dalam penilaian sekolah. Ujian sekolah rentan subyektif, terutama di sekolah dengan guru kurang kompeten. Ini memperlemah kualitas pendidikan siswa di wilayah tertinggal.
Kurangnya daya saing global juga menjadi isu. Siswa tanpa UN mungkin kesulitan bersaing di universitas internasional yang menghargai skor standar. Pada 2026, wacana kembalinya UN dengan format baru muncul untuk mengatasi ini, tapi masih dalam kajian.
Akhirnya, reformasi pendidikan Indonesia ini berpotensi menurunkan akuntabilitas sekolah, di mana prestasi tak lagi terukur secara nasional.
Reformasi Pendidikan Indonesia Pasca Penghapusan UN
Pasca penghapusan, pemerintah meluncurkan Kurikulum Merdeka dan AN. AN bukan ujian kelulusan, tapi alat pemetaan untuk perbaikan sistem. Pada 2025-2026, program ini telah menjangkau 90% sekolah, dengan fokus pada literasi digital dan karakter.
Contoh sukses: Di Jawa Barat, sekolah mengintegrasikan AN dengan pembelajaran berbasis AI, meningkatkan engagement siswa 30%. Namun, tantangan tetap ada, seperti kesenjangan infrastruktur di Papua.
Untuk orang tua, saran: Libatkan anak dalam ekstrakurikuler untuk bangun keterampilan. Guru bisa gunakan AN sebagai feedback untuk tingkatkan metode mengajar.
[Gambar: Infografis reformasi pendidikan]
Dampak Positif dan Negatif Penghapusan Ujian Nasional - BERBAGI ILMU
Perbandingan Sistem Pendidikan Sebelum dan Sesudah Penghapusan UN
Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel perbandingan:
| Aspek | Sebelum Penghapusan UN | Sesudah Penghapusan UN |
|---|---|---|
| Penilaian Kelulusan | Berdasarkan skor UN | Berdasarkan ujian sekolah dan portofolio |
| Tekanan Siswa | Tinggi, fokus hafalan | Rendah, fokus pemahaman |
| Standar Nasional | Seragam, tapi kaku | Fleksibel, tapi rentan bias |
| Dampak pada Kualitas | Standar tinggi, tapi ketimpangan | Holistik, tapi motivasi rendah |
| Data 2025 | Skor PISA 403 | Skor PISA 398 (turun ringan) |
Tabel ini menunjukkan trade-off antara kedua sistem. Dampak hapus UN bergantung pada implementasi reformasi.
[Gambar: Siswa mengikuti asesmen nasional]
Penghapusan UN tidak Tingkatkan SDM Indonesia | Republika Online
[Gambar: Grafik perbandingan kualitas pendidikan]
[Gambar: Diskusi orang tua tentang pendidikan]
Penghapusan Ujian Nasional Bukti Labilnya Sistem Pendidikan ...
Kesimpulan
Penghapusan UN Indonesia memiliki dua sisi: positif dalam mengurangi tekanan dan mendorong pembelajaran holistik, tapi negatif dalam potensi penurunan motivasi dan standar. Secara keseluruhan, reformasi ini bisa membuat siswa lebih pintar jika didukung infrastruktur baik, tapi berisiko turunkan kualitas jika tak dikelola dengan benar. Data 2025-2026 menunjukkan perbaikan di kota besar, tapi tantangan di daerah.
Sebagai orang tua atau guru, pantau perkembangan anak dan dukung reformasi ini. Bagikan pengalaman Anda di komentar di bawah, atau share artikel ini ke rekan sesama orang tua. Mari bersama tingkatkan pendidikan Indonesia!
FAQ
Apa alasan utama ujian nasional dihapus? Alasan utama adalah mengurangi tekanan psikologis siswa dan mendorong pembelajaran yang lebih mendalam, bukan hafalan semata.
Apa dampak hapus UN terhadap kualitas pendidikan siswa? Positif: Siswa lebih kreatif. Negatif: Potensi turunnya motivasi dan standar nasional.
Apakah UN akan kembali di 2026? Ada wacana kembalinya dengan format baru, tapi masih dalam kajian pemerintah.
Bagaimana siswa tanpa UN bisa bersaing di universitas? Melalui portofolio, AN, dan keterampilan nyata yang lebih dihargai kampus modern.
Apa reformasi pendidikan Indonesia terkini? Kurikulum Merdeka dan AN fokus pada literasi, numerasi, dan karakter.
Bagaimana orang tua bisa membantu anak pasca penghapusan UN? Dorong belajar mandiri, ikut ekstrakurikuler, dan pantau kemajuan melalui rapor sekolah.






