Pernah nggak sih kamu duduk di meja kerja, menatap layar komputer, tapi rasanya malas banget buat mulai? Bukan karena capek fisik, tapi entah kenapa semangatnya hilang begitu saja. Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami boreout—kebalikan dari burnout yang sering dibicarakan orang.
Kalau burnout itu kelelahan karena terlalu banyak kerja, boreout justru muncul karena pekerjaan terlalu sedikit, terlalu mudah, atau terlalu monoton. Hasilnya? Semangat kerja lenyap, motivasi nol, dan lama-lama bisa bikin stres juga. Parahnya, banyak orang nggak sadar kalau ini boreout, malah mikir “ah males aja”.
Di artikel ini, kita bahas 5 penyebab utama kehilangan semangat kerja yang sering jadi pemicu boreout. Plus, aku kasih tips praktis biar kamu bisa bangkit lagi. Yuk, simak!
Apa Itu Boreout dan Kenapa Harus Diwaspadai?
Sebelum masuk ke penyebabnya, kita pahami dulu boreout itu apa. Boreout adalah kondisi bosan kronis di tempat kerja karena kurang stimulasi. Beda dengan malas biasa, boreout bisa bikin kamu merasa hampa, cemas, bahkan depresi ringan.
Menurut beberapa studi psikologi kerja, boreout sama berbahayanya dengan burnout. Produktivitas turun, kreativitas mati, dan yang paling ngeri—kamu bisa stuck di zona nyaman yang bikin karir mandek. Makanya, penting banget kenali penyebabnya biar bisa diatasi sejak dini.
1. Pekerjaan Terlalu Mudah dan Kurang Tantangan
Ini penyebab nomor satu boreout: pekerjaanmu terlalu gampang. Kamu sudah mahir, tapi tugas hari ini sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Nggak ada yang bikin otak bekerja keras.
Bayangin kamu lulusan S2, tapi tugas sehari-hari cuma input data Excel yang bisa diselesaikan dalam 2 jam. Sisanya? Scroll HP sambil nunggu jam pulang. Awalnya enak, tapi lama-lama rasanya seperti otakmu “berkarat”.
Akibatnya, semangat kerja hilang karena nggak ada rasa pencapaian. Kamu merasa skill-mu sia-sia. Kalau sudah begini, boreout datang diam-diam.
Cara mengatasinya? Cari tantangan sendiri. Minta proyek baru ke atasan, ikut kursus online biar skill bertambah, atau mulai side project yang relate dengan pekerjaan. Intinya, jangan biarkan dirimu “menganggur” secara mental.
2. Rutinitas yang Monoton Setiap Hari
Bangun pagi, buka laptop, meeting, ngerjain tugas yang itu-itu lagi, makan siang, lanjut tugas, pulang. Besok ulangi. Minggu depan ulangi lagi.
Rutinitas yang terlalu predictable bikin hidup kerja terasa seperti robot. Nggak ada variasi, nggak ada kejutan. Otak manusia butuh stimulasi baru biar tetap “hidup”. Kalau nggak ada, ya bosan.
Banyak yang bilang, “Ah biasa aja kok,” tapi coba cek: kapan terakhir kamu excited mau ke kantor hari Senin?
Tips praktis: Coba ubah rutinitas kecil-kecil. Ganti jalur ke kantor, dengar podcast baru saat kerja, atau atur ulang meja kerja. Kalau memungkinkan, minta rotasi tugas atau pindah tim sementara. Variasi kecil bisa bikin perbedaan besar.
3. Kurang Pengakuan dan Apresiasi dari Atasan atau Tim
Kamu kerja bagus, selesai tepat waktu, tapi nggak ada yang notice. Atasan cuma bilang “oke” atau malah nggak bilang apa-apa. Lama-lama rasanya capek sendiri.
Manusia butuh dihargai. Kalau usaha kita nggak kelihatan, motivasi intrinsik (dari dalam diri) pelan-pelan mati. Boreout muncul karena kamu merasa “ngapain sih kerja keras kalau nggak ada yang peduli?”
Solusinya? Jangan tunggu orang lain. Mulai catat pencapaianmu sendiri—bikin jurnal kerja. Kalau memungkinkan, share hasil kerjamu di meeting tim. Kalau atasan cuek banget, mungkin saatnya cari lingkungan yang lebih menghargai kontribusi.
4. Skill dan Minat Nggak Cocok dengan Pekerjaan
Ini sering terjadi saat kita ambil pekerjaan karena “butuh uang” atau “nggak ada pilihan lain”. Awalnya oke, tapi setelah beberapa bulan, kok rasanya hati nggak di sini.
Kamu suka kreatif, tapi kerjaanmu 90% admin. Kamu suka ngomong sama orang, tapi kerja remote sendirian terus. Ketidakcocokan ini bikin semangat kerja lenyap total.
Boreout jadi makin parah karena kamu merasa stuck di tempat yang salah.
Apa yang bisa dilakukan? Refleksi dulu: apa yang bikin kamu excited dulu waktu kuliah atau kerja sampingan? Cari tahu passion-mu. Kalau belum bisa pindah kerja, mulai bangun skill di bidang yang kamu suka di luar jam kantor. Siapa tahu nanti jadi jalan keluar.
5. Beban Kerja Terlalu Ringan atau Terlalu Banyak Waktu Kosong
Banyak yang iri kalau dengar “kerjaan santai, nggak ada deadline ketat”. Tapi kenyataannya, terlalu banyak waktu kosong justru berbahaya.
Kamu selesai kerja jam 11 siang, sisanya nunggu pulang sambil pura-pura sibuk. Rasa bersalah muncul, produktivitas turun, dan boreout datang karena nggak ada rasa urgensi.
Cara mengatasinya: Manfaatkan waktu kosong untuk belajar hal baru. Baca buku bisnis, ikut webinar, atau bantu rekan kerja yang lagi sibuk. Kalau terlalu sering begini, bicara ke atasan: “Ada proyek lain yang bisa saya bantu nggak?” Tunjukkan inisiatif, biasanya atasan malah senang.
Cara Mengatasi Boreout Secara Umum
Setelah tahu penyebabnya, sekarang saatnya action. Beberapa langkah praktis yang bisa kamu coba:
- Bicara terbuka dengan atasan tentang tantangan yang kamu inginkan.
- Bangun rutinitas positif di luar kerja: olahraga, hobi, ketemu teman.
- Set goal pribadi di tempat kerja, misalnya “bulan ini mau selesaikan satu proyek ekstra”.
- Cari mentor atau komunitas yang bisa kasih inspirasi.
- Kalau sudah parah dan nggak ada perubahan, pertimbangkan pindah kerja. Kesehatan mental lebih penting.
Ingat, boreout nggak akan hilang sendiri. Kamu harus ambil langkah.
Kehilangan semangat kerja karena boreout itu wajar, tapi jangan dibiarkan. Kenali penyebabnya, ambil tindakan, dan kamu bisa balik excited lagi sama pekerjaan. Kamu berhak kerja di tempat yang bikin berkembang, bukan cuma bertahan.
Yuk, mulai hari ini cek: mana dari 5 penyebab di atas yang lagi kamu alami? Share di kolom komentar ya, siapa tahu kita bisa diskusi bareng!



