Meneladani Nyai Siti Walidah: Inspirasi PCIM Tunisia untuk Dakwah dan Pendidikan Perempuan Berkemajuan
Baru-baru ini, PCIM Tunisia – cabang Muhammadiyah di sana – menggelar kajian spesial tentang Nyai Siti Walidah. Mereka ingin mengambil inspirasi dari perjuangannya untuk mendorong dakwah dan pendidikan perempuan berkemajuan. Keren, kan? Di tengah dunia yang semakin global, semangat seperti ini bikin kita sadar bahwa perempuan punya peran besar dalam membangun peradaban Islam.
Artikel ini akan mengajak kamu menyelami kisah Nyai Siti Walidah, bagaimana PCIM Tunisia meneladaninya, dan kenapa ini relevan banget buat kita hari ini. Yuk, simak!
Siapa Sebenarnya Nyai Siti Walidah?
Nyai Siti Walidah, atau lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, lahir tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta. Dia tumbuh di lingkungan keraton yang kental dengan nilai agama. Sejak kecil, dia sudah belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab dari orang tuanya.
Tahun 1889, dia menikah dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Keduanya saling mendukung dalam perjuangan. Saat itu, perempuan sering terbatas ruang geraknya karena budaya patriarki yang kuat. Tapi Nyai Siti Walidah beda. Dia sadar, ketertinggalan perempuan bukan karena kurang mampu, tapi karena kurang kesempatan.
Dia mulai dengan hal sederhana: mengadakan pengajian khusus perempuan. Materinya? Akidah, akhlak, fiqih, sampai keterampilan hidup sehari-hari. Pendekatannya ramah dan mudah dipahami, jadi banyak yang tertarik.
Puncaknya, tahun 1917 dia mendirikan Aisyiyah – organisasi perempuan pertama di Muhammadiyah. Nama Aisyiyah terinspirasi dari Siti Aisyah, istri Rasulullah yang cerdas dan berani. Aisyiyah fokus pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan sosial. Nyai Siti Walidah jadi ketua pertamanya.
Dia juga mendirikan asrama untuk gadis-gadis, sekolah Frobel untuk anak usia dini, dan bahkan memelopori kerudung songket Kauman sebagai identitas perempuan Muhammadiyah. Luar biasa, ya?
Kajian Inspiratif PCIM Tunisia: Menghidupkan Kembali Semangat Nyai Siti Walidah
Di Tunisia, komunitas Muhammadiyah yang mostly mahasiswa dan diaspora Indonesia tetap aktif. PCIM Tunisia sering gelar kajian untuk perkuat ideologi dan dakwah.
Tanggal 8 Februari 2026, mereka adakan kajian offline bertema “Nyai Siti Walidah: Pelopor Pendidikan Perempuan dan Cahaya Perjuangan Islam”. Diikuti anggota dan kader, acara ini jadi momen refleksi sejarah sekaligus motivasi.
Ada dua pemateri keren: Adib Roushan dan Asma’ Alilatul. Adib cerita bagaimana Nyai Siti Walidah peka terhadap realitas sosial. “Ketertinggalan perempuan bukan karena ketidakmampuan, tapi minimnya kesempatan belajar,” katanya.
Sementara Asma’ bahas peran Nyai dalam mendirikan Aisyiyah. “Aisyiyah bukti nyata Islam mendukung kemajuan perempuan lewat pendidikan dan amal sosial,” ujarnya. Mereka tekankan, warisan Nyai masih hidup melalui sekolah, rumah sakit, dan program pemberdayaan Aisyiyah sampai sekarang.
Kajian ini bukan cuma nostalgia. PCIM Tunisia ingin kader muda sadar pentingnya peran perempuan dalam dakwah global.
Kenapa Semangat Nyai Siti Walidah Masih Relevan di Era Modern?
Kita sering dengar soal kesetaraan gender, tapi Nyai Siti Walidah sudah praktekkan itu seabad lalu. Di masa patriarki kental, dia buktikan perempuan bisa jadi agen perubahan.
Hari ini, tantangan beda. Perempuan sudah banyak akses pendidikan, tapi masih ada isu seperti diskriminasi atau beban ganda. Di konteks diaspora seperti Tunisia, perempuan Indonesia harus tetap kuat identitasnya sambil adaptasi budaya lokal.
PCIM Tunisia lihat ini sebagai peluang. Dengan meneladani Nyai, mereka dorong perempuan aktif dalam dakwah berkemajuan – dakwah yang inklusif, berbasis pendidikan, dan solutif.
Beberapa pelajaran praktis dari Nyai yang bisa kita terapkan:
- Mulai dari yang kecil → Pengajian sederhana bisa jadi awal gerakan besar.
- Pendekatan ramah → Dakwah perempuan harus mudah dipahami dan empowering.
- Kemandirian → Ajarkan skill hidup agar perempuan tak bergantung.
- Kolaborasi → Nyai selalu dukung suaminya, tapi punya inisiatif sendiri.
Ini relevan banget buat kita yang hidup di era digital. Banyak perempuan muda yang bisa jadi influencer dakwah positif.
Warisan Aisyiyah: Dari Yogyakarta sampai Tunisia
Aisyiyah sekarang punya ribuan cabang, sekolah, rumah sakit, dan program pemberdayaan. Semua bermula dari visi Nyai Siti Walidah.
Di luar negeri, semangat ini diteruskan oleh PCIM seperti di Tunisia. Mereka tak cuma kajian, tapi juga baitul arqam, silaturahmi, dan dukung kader muda. Tujuannya? Bangun generasi perempuan yang berkemajuan, berilmu, dan berakhlak.
Bayangin, di tengah Tunisia yang mayoritas Muslim tapi budaya berbeda, komunitas Indonesia tetap pegang teguh nilai Muhammadiyah. Ini bukti dakwah berkemajuan bisa adaptasi tanpa hilang identitas.
Kesimpulan: Saatnya Kita Ikut Meneladani Nyai Siti Walidah
Kisah Nyai Siti Walidah dan langkah PCIM Tunisia mengingatkan kita bahwa perjuangan pendidikan dan dakwah perempuan tak pernah berhenti. Di mana pun kita berada, semangat berkemajuan ini bisa kita hidupkan – mulai dari lingkungan kecil seperti keluarga atau komunitas.
Kalau kamu terinspirasi, yuk mulai dari sekarang. Ikut pengajian, dukung pendidikan perempuan di sekitar, atau bagikan kisah inspiratif ini. Siapa tahu, kamu jadi Nyai Siti Walidah versi modern!







