Pernah nggak sih kamu excited banget nemu loker idaman di LinkedIn atau Jobstreet, langsung apply, ikut tes, sampai tahap interview… eh tiba-tiba prosesnya mandek tanpa kabar? Atau malah ditolak dengan alasan “posisi ditutup sementara”? Frustrasi, kan?
Itu salah satu gejala klasik perusahaan lagi freeze hiring. Di tahun 2026 ini, kondisi ekonomi yang masih naik-turun plus pengaruh AI bikin banyak perusahaan lebih pilih nahan rekrutmen baru daripada langsung PHK massal. Hasilnya? Banyak lowongan kerja yang sebenarnya “palsu” atau cuma buat kumpulin database kandidat, tapi nggak benar-benar dibuka.
Sayang banget kalau waktu, tenaga, dan emosi kamu terbuang percuma. Makanya, yuk simak 5 tips praktis biar kamu bisa lebih cerdas deteksi dan hindari jebakan loker freeze hiring ini. Langsung praktekkan, biar job hunting kamu lebih efisien!
Apa Itu Freeze Hiring dan Kenapa Masih Banyak Terjadi di 2026?
Sebelum masuk ke tipsnya, pahami dulu: freeze hiring artinya perusahaan sementara berhenti merekrut karyawan baru. Bisa karena tekanan ekonomi, restrukturisasi, penurunan pendapatan, atau bahkan efisiensi pakai teknologi AI yang bikin mereka nggak butuh tambah orang.
Di Indonesia, tren ini masih terasa kuat. Banyak perusahaan tech, startup, sampai korporasi besar yang memilih freeze daripada PHK terang-terangan. Lowongan tetap dipasang, tapi prosesnya lambat atau malah di-cancel diam-diam. Kamu yang apply malah jadi “cadangan” tanpa kepastian.
Intinya: jangan sampai kamu jadi korban. Lebih baik deteksi dari awal, daripada buang waktu berbulan-bulan.
1. Cek Berita dan Pengumuman Perusahaan Secara Mendalam
Tips pertama dan paling gampang: jangan cuma baca deskripsi loker doang. Langsung googling nama perusahaan + kata kunci seperti “restrukturisasi”, “efisiensi”, “penundaan ekspansi”, atau “hiring freeze”.
Contoh nyata: kalau perusahaan baru saja umumkan “fokus efisiensi biaya tahun ini” atau “restrukturisasi organisasi”, hampir pasti mereka lagi freeze hiring. Bahkan kalau lowongan masih terbuka, kemungkinan besar cuma formalitas atau buat kumpulin CV.
Praktiknya:
- Buka situs resmi perusahaan, cek bagian news atau press release.
- Cari di LinkedIn perusahaan tersebut, lihat postingan terbaru dari official account.
- Cek juga berita di media seperti CNBC Indonesia, Kompas, atau Kontan.
Kalau nemu tanda-tanda negatif, skip aja loker itu. Lebih baik fokus ke perusahaan yang lagi ekspansi atau buka banyak posisi baru.
2. Perhatikan Detail Iklan Lowongan yang “Terlalu Umum” atau Terlalu Lama Tayang
Lowongan yang sudah tayang berbulan-bulan tanpa di-update biasanya mencurigakan. Atau deskripsinya super generik, nggak spesifik ke divisi atau proyek tertentu? Itu sering jadi red flag.
Beberapa tanda klasik di iklan:
- Gaji ditulis “kompetitif” atau “sesuai kemampuan” tanpa range.
- Persyaratan “pengalaman X tahun di bidang terkait” tapi nggak jelas bidang apa.
- Proses rekrutmen nggak disebutkan tahapannya (misal tanpa tes atau interview info).
- Lowongan untuk level senior tapi dibuka di banyak portal tanpa penjelasan kenapa urgent.
Analogi sederhana: kalau kamu mau jualan barang, tapi deskripsinya asal-asalan dan nggak pernah di-refresh, kemungkinan besar barangnya nggak beneran dijual. Sama dengan loker.
Solusinya: kalau ragu, langsung hubungi HR via LinkedIn atau email. Tanyakan sopan, “Apakah posisi ini masih aktif dibuka?” Kalau jawabannya lambat atau mengelak, itu sinyal buruk.
3. Stalk LinkedIn dan Glassdoor untuk Lihat Aktivitas Internal
Ini tips paling powerful di era sekarang. LinkedIn bukan cuma buat apply, tapi juga buat intip kondisi perusahaan.
Caranya:
- Cek berapa orang yang baru di-hire di posisi serupa dalam 6-12 bulan terakhir. Kalau nol atau cuma sedikit, kemungkinan freeze.
- Lihat postingan karyawan: apakah banyak yang complain soal beban kerja meningkat tanpa tambah orang? Atau ada postingan “We’re restructuring for better efficiency”?
- Di Glassdoor atau Indeed review, cari kata kunci “hiring freeze”, “slow hiring”, atau “no new hires”.
Contoh: kalau di LinkedIn kamu lihat hiring manager yang sama posting lowongan yang sama 3 bulan lalu tapi nggak ada update “we’re hiring!”, itu pertanda prosesnya mandek.
Jangan malu stalking. Ini bukan gosip, ini riset cerdas biar nggak buang waktu.
4. Tanyakan Langsung di Networking atau Komunitas Job Seeker
Kadang info paling akurat datang dari orang dalam. Gabung komunitas seperti grup Facebook “Lowongan Kerja Indonesia”, Reddit r/indojobs, atau Discord job hunting.
Tanya aja: “Ada yang apply ke [nama perusahaan] belakangan ini? Prosesnya gimana?”
Banyak job seeker yang sharing pengalaman: “Aku apply 2 bulan lalu, sampai sekarang ghosting”, atau “Katanya freeze karena restrukturisasi”.
Networking juga bisa lewat LinkedIn. Connect sama karyawan di perusahaan target, kirim pesan sopan: “Hai, saya tertarik dengan posisi X di perusahaan Anda. Boleh share sedikit pengalaman proses rekrutmennya?”
Orang biasanya senang bantu kalau ditanya ramah. Info dari sini sering lebih real daripada iklan resmi.
5. Prioritaskan Perusahaan yang Benar-Benar Aktif Rekrut dan Diversifikasi Lamaran
Terakhir, jangan taruh semua telur di satu keranjang. Kalau kamu nemu tanda-tanda freeze di satu perusahaan, langsung pivot ke yang lain.
Fokus ke perusahaan yang:
- Baru buka funding/ekspansi (cek berita startup atau korporasi).
- Aktif posting lowongan baru setiap minggu.
- Punya career page yang up-to-date dengan testimoni karyawan baru.
Plus, apply minimal 10-15 loker per minggu ke perusahaan berbeda. Diversifikasi ini bikin kamu nggak terlalu kecewa kalau satu-dua ternyata freeze.
Bonus tip: siapkan “pipeline” lamaran. Catat di spreadsheet: perusahaan, tanggal apply, tahap terakhir, dan follow-up date. Biar kamu bisa pantau mana yang potensial dan mana yang patut di-drop.
Kesimpulan: Lebih Cerdas, Lebih Cepat Dapat Kerja yang Pasti
Mencari kerja di 2026 memang challenging, tapi dengan deteksi dini freeze hiring, kamu bisa hemat waktu dan energi. Ingat kelima tips ini: cek berita perusahaan, perhatiin detail loker, stalk LinkedIn, tanya networking, dan diversifikasi lamaran.
Jangan biarkan satu loker bikin kamu stuck berbulan-bulan. Lebih baik apply banyak ke tempat yang sehat, daripada nunggu yang nggak pasti.
Semangat job hunting-nya! Kamu pasti bisa dapet kerja yang sesuai. Kalau ada pengalaman atau tips tambahan, share di kolom komentar ya. Siapa tahu bisa bantu pembaca lain.




